Khofifah Resmi Lantik Shodiqin sebagai Kaper Kemendukbangga Jatim, Utamakan Penanganan AKI, AKB, dan Pernikahan Dini

Pengukuhan Shodiqin sebagai Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Provinsi Jawa Timur oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa menandai langkah strategis dalam memperkuat komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan keluarga dan pengendalian penduduk. Acara yang berlangsung di Gedung Negara Grahadi pada tanggal 29 Mei 2026 ini tidak hanya menjadi momen penting bagi Shodiqin, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Jawa Timur yang berfokus pada penanganan isu-isu kritis seperti angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), serta pernikahan dini.
Komitmen Pemprov Jatim dalam Pembangunan Keluarga
Pemprov Jatim telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendukung program pembangunan keluarga yang berkelanjutan. Dengan pengukuhan Shodiqin sebagai kaper Kemendukbangga Jatim, diharapkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat terjalin lebih erat. Hal ini bertujuan untuk menurunkan angka stunting dan meningkatkan kesejahteraan keluarga di provinsi ini.
Peran Strategis Shodiqin
Usai dilantik, Shodiqin menyatakan rasa syukur atas amanah yang diberikan kepadanya. Ia berkomitmen untuk melaksanakan berbagai program strategis dan berkoordinasi dengan jajaran BKKBN Jawa Timur. Arahan dari Gubernur Khofifah juga menjadi pedoman bagi Shodiqin untuk menjalankan tugasnya, di mana program keluarga berencana (KB) harus dipahami sebagai upaya pengaturan jarak kelahiran, bukan sekadar pembatasan jumlah anak.
Pentingnya Pengaturan Jarak Kelahiran
Gubernur Khofifah menekankan bahwa pengaturan jarak kelahiran memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan ibu dan anak. Shodiqin menambahkan bahwa pengaturan ini sangat penting untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi di daerah-daerah yang masih tinggi. Dengan pendekatan ini, diharapkan risiko yang dihadapi oleh ibu dan anak dapat diminimalisir.
- Pengaturan jarak kelahiran menurunkan risiko AKI dan AKB.
- Program KB bukan hanya tentang jumlah anak, tetapi juga kesehatan.
- Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memperkuat program-program ini.
- Kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi perlu ditingkatkan.
- Data dan statistik menjadi dasar untuk pengambilan keputusan.
Tugas Luas BKKBN
Shodiqin, yang sebelumnya menjabat sebagai Kaper Kemendukbangga/BKKBN di Sulawesi Selatan, mengungkapkan bahwa tugas BKKBN kini semakin luas. Tidak hanya fokus pada program keluarga berencana, tetapi juga pada isu kependudukan, pembangunan keluarga, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, sinergi dengan berbagai instansi dan lembaga sosial masyarakat menjadi sangat penting untuk mencapai tujuan ini.
Langkah Awal Setelah Pengukuhan
Sebagai langkah awal, Shodiqin bersama timnya akan melakukan roadshow dan koordinasi dengan dinas-dinas terkait di tingkat provinsi serta kabupaten/kota. Dengan pendekatan ini, diharapkan program-program yang telah berjalan dapat diperkuat dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Capaian Indikator Kependudukan di Jatim
Pada kesempatan tersebut, Shodiqin juga memaparkan capaian indikator kependudukan di Jawa Timur yang menunjukkan hasil yang positif. Salah satunya adalah Total Fertility Rate (TFR) yang kini berada di angka 1,9, lebih rendah dari target nasional sebesar 2,1. Meskipun angka ini menunjukkan kemajuan, Shodiqin menegaskan pentingnya menjaga stabilitas agar tidak terjadi fluktuasi yang signifikan.
Penurunan Stunting yang Harus Dipertahankan
Penurunan angka stunting di Jawa Timur, yang saat ini berada di angka 14,7%, juga menjadi fokus perhatian. Shodiqin menekankan bahwa pencapaian ini harus terus dipertahankan melalui kolaborasi lintas sektor dan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Pentingnya kesadaran akan gizi dan kesehatan bagi anak-anak menjadi salah satu prioritas utama dalam program-program yang akan dijalankan.
Tantangan Pernikahan Dini di Jatim
Shodiqin juga menyoroti tantangan serius yang dihadapi terkait tingginya angka pernikahan dini di beberapa daerah di Jawa Timur. Hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga menunjukkan bahwa usia perkawinan dan usia awal kawin di sejumlah lokasi masih cukup tinggi. Faktor budaya dan tradisi menjadi salah satu penyebab utama dari fenomena ini, sehingga menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani bersama.
- Faktor budaya perlu menjadi perhatian dalam edukasi masyarakat.
- Kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan tokoh masyarakat diperlukan.
- Pendidikan tentang pendewasaan usia perkawinan harus diperluas.
- Kampanye kesadaran untuk mencegah pernikahan dini harus digalakkan.
- Program-program preventif perlu dirancang untuk menanggulangi isu ini.
Harapan untuk Masa Depan
Shodiqin optimis bahwa Jawa Timur dapat menjadi salah satu provinsi penyangga utama dalam program pembangunan nasional di bidang kependudukan dan pembangunan keluarga. Ia berharap agar seluruh kepala daerah di Jawa Timur memberikan dukungan penuh terhadap program-program yang telah direncanakan. Komitmen dan kerja sama yang solid antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencapai target-target nasional dalam bidang ini.
Dengan langkah-langkah strategis yang telah direncanakan, diharapkan Shodiqin dan jajaran Kemendukbangga/BKKBN Jatim dapat membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat serta mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi. Dukungan dari semua pihak akan sangat menentukan keberhasilan program-program yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.